Thursday, September 25, 2014

Jangan Jatuh dan Tertimpa Tangga

Dunia tak selamanya berwarna kelabu. Tapi tak selamanya pula indah layaknya pelangi. Itu semua karena dunia itu berputar tak ubahnya sebuah roda. Yang terkadang di bawah dan  di atas.

Pasti diantara kalian ada yang sempat terpikir, “Siapa bilang roda itu berputar? Toh yang selalu terpilih hanya orang-orang itu saja. Kapan giliran kita?”. Jika semua orang berpikiran seperti itu tanpa mau menunjjukkan kebolehan yang dimilikinya, jangan salahkan orang lain jika ternyata hanya orang-orang itu saja yang terpilih. Dan bagi yang merasa sudah menunjukkan keahloannya tapi tetap saja tidak terpilih, berarti keahlianmu itu perlu diasah lagi dan lagi.

Coba perhatikan percakapan berikut:

A: “Wah, hebat sekali ya teman kita Nisa yang dulu pemalu, ternyata sekarang bisa menjadi pembawa acara di televisi.”

B: “Fatimah juga hebat lho, bisa bekerja di Jerman dan bersuamikan orang sana. Padahal dulu bahasa inggrisnya biasa saja.”

A: “Iya coba lihat Nasuha yang dulu pasti dapat rangking satu, sekarang diam saja di rumah mengurus anak.”

B: “Padahal diakan lulusan teknik ITB.”

Apa yang dapat kita ambil kesimpulan dari cerita diatas? Mungkin bagi si A dan si B sebuah standar kesuksesan adalah kemapanan dan kecukupan harat atau nama yang terkenal.  Sedangkan mungkin saja bagi Nasuha temannya, di rumah dan menjaga anaknya serta dapat mendidik mereka sebagai anak yang solehah adalah sebuah kesuksesan yang tiada tara walaupun hidup penuh dengan kesederhanaan.

Ingatlah ya akhwati.... Bukannya tidak perlu menjadi seorang pelari yang memperoleh sebuah medali kemenangan, menjadi pemenang suatu olimpiade yang memegang sebuah tropi, ataupun seorang pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan lalu namanya tercantum dalam semua buku sejarah dan harus dihafalkan ataupun diperingati setiap tahunnnya. Tetapi cukuplah dengan sebuah langkah kecil dari perubahan dan perjuangan dalam hidupmu akan lebih berarti bagi orang lain, mungkin sudah beberapa cerita yang sudah kalian dengar dan kalian ketahui.

Kita atau siapapapun bisa mendapatkan sebuah kesuksesan asalkan kita bermental sang juara dan pemenang. Sang juara disini bermakna sangatlah luas, seorang hakim yang adil, seorang pedagang yang jujur , penyapu jalan yang ikhlas, ataupun seorang guru yang tulus itulah sebuah kesuksesan. Dimana kelak mungkin orang akan mengenang jasa-jasa atau perilaku yang kita tinggalkan dan berkesan di benak mereka.

Dengan begitu bukan berarti kita harus bekerja sedikit saja, tetapi kita harus mau melakukan apapun walaupun hal yang sangat kecil dengan mental seorang juara. Tidak perlu berkata,“Toh sebuah kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda!”. Tetapi akankah sebuah kesuksesan itu selalu kita dapat setelah melalui sebuah kegagalan. Sebenarnya segala yang kita dapatkan itu tergantung apa yang kita usahakan. Kemampuan hanya menentukan 10% dari keberhasilan seseorang, sedangkan sisanya adalah usaha dan do’a.

 Apakah seorang pedagang harus menanggung rugi yang amat besar lalu ia akan mendapat kesuksesan dengan memperoleh laba yang besar setelah itu, tetapi apabila umurnya masih mencukupi untuk menikmati keberhasilannya. Dalam contoh lain apakah seorang nahkoda kapal disebut sukses apabila ia telah dapat melewati sebuah ombak besar atau melewati badai dan selamat setelah melewati itu semua baru kemudian dapat disebut sebagai orang yang sukses.
Sebenaranya kiasan atau kalimat “Kegagalan adalah sukses yang tertunda” hanyalah sebuah motivasi agar semua orang yang telah gagal mau untuk bangkit kembali, mengapa kalimat yang telah gagal digaris bawahi?. Artinya kiasan ini bukan untuk orang yang belum mencoba, belum berusaha dan belum merasakan kegagalan agar menjadi alasan setelah kegagalannya kelak. Maka teruslah berusaha dan mencoba apapun hasil akhirnya kelak. Sungguh Allah tidak pernah memandang hasil akhir, melainkan jalan yang kita lalui. Jadi, semakin banyak usaha yang kita lakukan semakin banyak nilai kita di hadapan Allah.

Seperti di dalam mahfudzot disebutkan
جرّب و لحظ تكن عارفا

Maka jangan sampai di dalam kehidupan kita ada kalimat “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga” apa maksudnya? Yaitu sudah gagal ia juga terpuruk oleh kegagalan, atau tidak dapat bangkit kembali karena orang yang telah jatuh pasti ia merasa kesakitan setelah itu ia tertimpa tangga yang menghalanginya untuk bangkit kembali. Ia pun akan terus berada dalam kesakitan yang berkepanjangan karna biasanya akan disertai hilangnya rasa percaya diri dan takut untuk mencoba kembali.

-Kultum Ninxia '14-

Wednesday, September 24, 2014

A Thousand Loves for You

Dan ingatlah suatu hari,,,
bahwa kita pernah bersama,
menjalani hari bak keluarga,
yang bahkan tak saling mengenal sebelumnya

Dan ketika kita saling menguatkan,,,
menasehati di dalam kesedihan juga kebahagiaan,
disaat itu pulalah kita menyadari,
bahwa kita adalah KELUARGA,
yang terbentuk berjuta langkah dari rumah

Indahnya canda dan tawa,,,
tak kan selamanya menghiasi hari-hari kita,
akan tetapi, kebahagiaan akan selalu di hati

Ingatlah,,,
bahwa kita pernah bersatu,
saling menjadi pijakan satu sama lain untuk tetap berdiri,
menjadikan perbedaan untuk tetap saling menghargai

Akankah kalian lupa?

Bahkan kehidupan telah menyatukan kita,
mengaitkan rantai diantara jiwa-jiwa kita,
melekatkan erat kenangan di dalam memori jiwa

Tetapi jalan kita berbeda,,,
jalan indah yang telah digariskan-Nya,
tak mesti sama dengan indah menurut manusia,
tapi pastinya,  itu lebih indah dari segalanya

Sayangnya kehidupan itu terus berjalan,,,
masa lalu hanyalah kenangan yang tak mungkin diulang,
tapi bagaimana kita bisa membawa kenangan itu menyertai langkah sukses kita di masa yang akan datang....

a thousand love for
Ninxia Fam’s 2014

Monday, September 22, 2014

Selamat Datang Dunia Baru,,, Menulis

Blog baru nih ciyee...... Hahayy!!! 

Ini blog baru gue, guys....!! Udah sempet beberapa kali sih bikin blog, tapi karena kegiatan dan peraturan di pesantren yang gak memungkinkan. Ilang deh,,, namanya aja gue lupa. Hahaha :D 
Nggak ding, modus itu, bro!! haha.... Jujur gue gak ngerti gimana make nya --"
Bismillah kali ini mau serius nge-blog, berbagi apa aja yang gue tahu, apa aja yang ada dipikiran gue, apa aja uneg-uneg gue tentang Islam, Indonesia, kehidupan atau apapun yang masih bernilai positif ke sesama saudara se-tanah air. Siapa tau bermanfaat,,, ya nggak??

Dengan blog ini gue juga pengen ngembangin skill nulis gue sebagai mahasiswa yang emang harus banyak-banyak nulis. Sekali dayung dua, tiga pulau terlampaui. Jadi, sekali kegiatan, yaitu nulis bisa banyak manfaatnya, baik buat diri sendiri atupun orang lain. Ya nglatih skill, mengasah kemampuan verbal dalam menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan - kalo kata pepatah sih, "menulis adalah bekerja untuk keabadian" -, bisa berbagi ilmu dan pengalaman juga untuk yang membutuhkan, bisa juga memotivasi yang lagi down, galau dan lain sebagainya. 

Jadi, hidup itu harus dimanfaatin sebaik mungkin gaes selagi masih bisa memanfaatkannya......! Semoga dengan menulis bisa merubah cara pandang sesorang tentang suatu hal.

Salam Perubahan.......!!!!!

Showing Identity or Hiding Identity

ID, identity, identitas ..... Ini semua sama, dan ini semua penting. Ternyata gak sedikit orang yang memalsukan identitas mereka. Kenapa sih emangnya? Ada yang salah dengan identitasnya? Apa dia orang illegal? Buronan? Atau apa sih ?
    Bisa jadi orang menyembunyikan identitasnya ketika ia punya masa lalu yang buruk, yang gak ingin diketahui orang lain. Bisa jadi juga dia emang sedang dicari banyak oknum. Dan masih banyak alasan lainnya kenapa orang memilih menyembunyikan identitasnya.
   Kenapa sih identitas aja kok jadi dipermasalahkan sampe sebegininya?
   Haha... Mungkin bagi sebagian kalian ini memang seperti membesar-besarkan masalah sepele. Tapi, coba kita tinjau ulang seberapa penting sih identitas? Gini aja deh! Coba barang kalian ada yang jatuh atau ketinggalan, apa yang bakal menemukan kalian dengan benda itu? Identitas kan? Gimana seorang individu mengenal atau mengetahui individu lainnya? Dengan identitas juga kan? Ini contoh sederhananya aja dalam keseharian kita.
    Jadi identitas disini maksudnya jati diri kita. Iya jati diri, jati diri kita sebagai muslim/muslimah, jati diri kita sebagai santri/santriwati, jati diri sebagai mahasiswa/mahasiswi. Pastinya semua itu punya ciri masing-masing kan? Gimana identitas seorang muslim atau muslimah yang membedakannya dengan umat beragama lainnya. Gimana sih seorang santri/santriwati atau mahasiswa/mahasiswi menunjukkan jati dirinya dalam masyarakat atau suatu lingkungan? Misalnya dari pakaian, perilaku, perkataan. Ini dia yang saya maksud sebagai identitas.
Dengan orang lain tahu jati diri kita, maka keberadaan kita akan dianggap. Juga orang lain akan menghargai kita apa adanya kita. Bukannya mau dihargai atau pun dihormati yaa....! Tapi tunjukkan inilah kita dengan perilaku yang ramah dan santun. Ini cerminan sebagai muslim/muslimah yang baik. Kalo mahasiwa dan santri gimana donk? Yaudah, kita terapkan apa yang telah kita dapatkan.
Jangan malu ngaku sebagai santri karena takut dibilang kampungan, trus sok bergaya kayak temen-temen lainnya. Inget apa yang udah ditanamkan ustadz/ustadzah di pondok. Justru dengan orang lain tahu kalo kamu santri/santriwati mereka gak akan berlaku yang gak semestinya ke kamu.
Begitu juga dengan mahasiswa/mahasiswi. Gimana mereka bisa diterima di masyarakat? Perilaku atau akhlak-lah yang pertama kali mempengaruhi semua itu. Mau sepandai apapun atau seaktif apapun seorang mahasiswa tapi kalo akhlak-nya minus, tetep aja dia gak akan diterima di masyarakat. Bagaimana etika mereka dalam menyampaikan aspirasi, termasuk bagaimana mereka berperilaku terhadap pengajar atau dosen. Gimana-gimana juga dosen kita tetep seorang yang wajib kita hormati kayak semasa kita sekolah.
Trus, ketika kamu lulus dari sebuah lembaga ataupun institusi. Nggak semestinya juga kita sembunyikan. Entah almamater kita itu bagus akreditasinya ataupun nggak, dia udah berjasa menampung kita selama menuntut ilmu. Kalaupun ya dikenal kurang bagus, berarti kita sebagai alumninya lah yang seharusnya mengangkat nama almamater kita itu. Tapi kalo pun udah dikenal bagus, bukan berarti kita semaunya atau malah sembunyi karena ngrasa gak kuat menanggung nama almamater yang dikenal bagus itu. Sebaliknya kita malah harus bisa menjaga nama baik institusi tersebut, dan menyeimbangkan kemampuan yang kita miliki dengan nama baik institusi tersebut agar bisa bersaing dengan lembaga atau institusi lainnya.
Nah, temen-temen! Ayo kita tunjukin identitas kita. Semoga bisa jadi contoh dan teladan untuk lingkungan sekitar. Asal identitasnya yang baik-baik yah! Dengan begitu kita udah menyebarkan atmosfer yang baik buat sekitar kita secara gak langsung. Semoga juga bisa kasih pengaruh yang lebih berarti nantinya. Amiin....