Dunia
tak selamanya berwarna kelabu. Tapi tak selamanya pula indah layaknya pelangi.
Itu semua karena dunia itu berputar tak ubahnya sebuah roda. Yang terkadang di
bawah dan di atas.
Pasti diantara
kalian ada yang sempat terpikir, “Siapa bilang roda itu berputar? Toh yang
selalu terpilih hanya orang-orang itu saja. Kapan giliran kita?”. Jika semua
orang berpikiran seperti itu tanpa mau menunjjukkan kebolehan yang dimilikinya,
jangan salahkan orang lain jika ternyata hanya orang-orang itu saja yang
terpilih. Dan bagi yang merasa sudah menunjukkan keahloannya tapi tetap saja
tidak terpilih, berarti keahlianmu itu perlu diasah lagi dan lagi.
Coba perhatikan percakapan
berikut:
A: “Wah,
hebat sekali ya teman kita Nisa yang dulu pemalu, ternyata sekarang bisa
menjadi pembawa acara di televisi.”
B:
“Fatimah juga hebat lho, bisa bekerja di Jerman dan bersuamikan orang sana.
Padahal dulu bahasa inggrisnya biasa saja.”
A: “Iya
coba lihat Nasuha yang dulu pasti dapat rangking satu, sekarang diam saja di
rumah mengurus anak.”
B:
“Padahal diakan lulusan teknik ITB.”
Apa yang
dapat kita ambil kesimpulan dari cerita diatas? Mungkin bagi si A dan si B
sebuah standar kesuksesan adalah kemapanan dan kecukupan harat atau nama yang
terkenal. Sedangkan mungkin saja bagi
Nasuha temannya, di rumah dan menjaga anaknya serta dapat mendidik mereka
sebagai anak yang solehah adalah sebuah kesuksesan yang tiada tara walaupun
hidup penuh dengan kesederhanaan.
Ingatlah
ya akhwati.... Bukannya tidak perlu menjadi seorang pelari yang memperoleh
sebuah medali kemenangan, menjadi pemenang suatu olimpiade yang memegang sebuah
tropi, ataupun seorang pejuang yang memperjuangkan kemerdekaan lalu namanya
tercantum dalam semua buku sejarah dan harus dihafalkan ataupun diperingati
setiap tahunnnya. Tetapi cukuplah dengan sebuah langkah kecil dari perubahan
dan perjuangan dalam hidupmu akan lebih berarti bagi orang lain, mungkin sudah
beberapa cerita yang sudah kalian dengar dan kalian ketahui.
Kita
atau siapapapun bisa mendapatkan sebuah kesuksesan asalkan kita bermental sang
juara dan pemenang. Sang juara disini bermakna sangatlah luas, seorang hakim
yang adil, seorang pedagang yang jujur , penyapu jalan yang ikhlas, ataupun seorang
guru yang tulus itulah sebuah kesuksesan. Dimana kelak mungkin orang akan
mengenang jasa-jasa atau perilaku yang kita tinggalkan dan berkesan di benak
mereka.
Dengan begitu
bukan berarti kita harus bekerja sedikit saja, tetapi kita harus mau melakukan
apapun walaupun hal yang sangat kecil dengan mental seorang juara. Tidak perlu
berkata,“Toh sebuah kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda!”. Tetapi
akankah sebuah kesuksesan itu selalu kita dapat setelah melalui sebuah
kegagalan. Sebenarnya segala yang kita dapatkan itu tergantung apa yang kita
usahakan. Kemampuan hanya menentukan 10% dari keberhasilan seseorang, sedangkan
sisanya adalah usaha dan do’a.
Apakah seorang pedagang harus menanggung rugi
yang amat besar lalu ia akan mendapat kesuksesan dengan memperoleh laba yang besar
setelah itu, tetapi apabila umurnya masih mencukupi untuk menikmati
keberhasilannya. Dalam contoh lain apakah seorang nahkoda kapal disebut sukses
apabila ia telah dapat melewati sebuah ombak besar atau melewati badai dan
selamat setelah melewati itu semua baru kemudian dapat disebut sebagai orang
yang sukses.
Sebenaranya
kiasan atau kalimat “Kegagalan adalah sukses yang tertunda” hanyalah sebuah
motivasi agar semua orang yang telah gagal mau untuk bangkit kembali,
mengapa kalimat yang telah gagal digaris bawahi?. Artinya kiasan ini bukan
untuk orang yang belum mencoba, belum berusaha dan belum merasakan kegagalan
agar menjadi alasan setelah kegagalannya kelak. Maka teruslah berusaha dan
mencoba apapun hasil akhirnya kelak. Sungguh Allah tidak pernah memandang hasil
akhir, melainkan jalan yang kita lalui. Jadi, semakin banyak usaha yang kita
lakukan semakin banyak nilai kita di hadapan Allah.
Seperti
di dalam mahfudzot disebutkan
جرّب و لحظ تكن
عارفا
Maka
jangan sampai di dalam kehidupan kita ada kalimat “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”
apa maksudnya? Yaitu sudah gagal ia juga terpuruk oleh kegagalan, atau tidak
dapat bangkit kembali karena orang yang telah jatuh pasti ia merasa kesakitan
setelah itu ia tertimpa tangga yang menghalanginya untuk bangkit kembali. Ia pun
akan terus berada dalam kesakitan yang berkepanjangan karna biasanya akan
disertai hilangnya rasa percaya diri dan takut untuk mencoba kembali.
-Kultum Ninxia '14-